Monday, June 17, 2013

Kisah TKI Indonesia yang mejadi Milyarder di Arab Saudi


TKI 45 - Kisah TKI Mendadak jadi Miliarder di Arab Saudi. Belakang ini, banyak media massa yang memberitakan tentang pembantu asal indonesia yang mendadak jadi miliarder di arab saudi, lantaran ia memperoleh warisan dari sang majikan sebesar kurang lebih 50 miliar.

Tentu hal tersebut membuat gempar dunia dan menjadi topik utama dalam pemberitaan di berbagai media. Sebenarnya, apa alasan majikannya memberikan warisan sebesar itu? Mari kita simak saja Kisah TKI Mendadak Jadi Miliarder di Arab Saudi berikut ini.

Seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia mendadak jadi kaya raya karena memperoleh warisan senilai lebih 20 juta riyal Saudi atau sekitar Rp50 miliar dari majikannya.
Pesan Sponsor

Seperti diberitakan harian lokal Okaz pada 9 Juli, TKW Indonesia yang dirahasiakan namanya ini datang ke Arab Saudi berbekal visa kerja. Ia bekerja pada seorang majikan yang berprofesi sebagai pengusaha kaya yang memiliki beragam properti di Kota Thaif.

Setelah sekian lama, majikan memutuskan untuk menikahinya. Namun, usia pernikahannya tidak berlangsung lama karena majikan yang juga suaminya keburu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Menurut Abdullah Umar, seorang pemerhati sosial di Arab Saudi, majikan itu meninggalkan harta benda berupa tanah dan bangunan yang terdapat di beberapa sudut kota dan di pinggiran jalan raya Kota Thaif. TKW itu memutuskan menetap di Arab Saudi sampai memperoleh bagian dari peninggalan suaminya.

Setelah lebih dari delapan tahun proses perundingan dengan semua ahli waris, hakim pengadilan Syeikh Abdurrahman Al-Dakhil pekan silam memutuskan bahwa TKW itu berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan suaminya.

TKW mujur ini memperoleh bagian senilai lebih dari 20 juta riyal dari sejumlah tanah dan gedung apartemen peninggalan mendiang suaminya yang ditaksir bernilai 300 juta riyal Saudi setelah dijual melalui proses lelang terbuka.


Saturday, June 15, 2013

Kisah sukses Nasiroh TKI Taiwan

Info TKI 45 - Kisah ini terjadi di Taiwan dan baru akan dipublis oleh majalah setempat pada bulan Desember nanti. Saya dapat kesempatan menayangkan lebih dahulu atas kebaikan reporternya yang tak lain adalah teman saya yang kini menjadi wartawan dan menetap disana.
Foto dan naskah dalam postingan ini dikirim langsung dari Taiwan.
Tersebutlah Nasiroh, ibu dari seorang anak dan merupakan salah satu TKI di Taiwan. Kisahnya lagi jadi buah bibir sesama pekerja rantau disana. Bukan karena penyiksaan atau pemerkosaan, tapi justru karena perlakuan istimewa dari sang majikan.

Ia mengurus seluruh keperluan majikan. Ngantar anak pergi sekolah, belanja, masak dan pekerjaan rumah tangga lain. Tahun 2005 si majikan memintanya untuk pakai mobil. Tapi mana bisa, wong di kampungnya kemana2 cuma naik sepeda onthel. Kemudian ia diikutkan kursus stir sampai dapat SIM Taiwan. Itulah awal mula dia mampu mengendarai roda empat. ”
Saat ini kontraknya memasuki tahun ketiga. Setahun belakangan ia diserahi satu unit mobil Mazda6 atas namanya sendiri. Sedan matic warna putih itu menjadi kebanggaan wanita asal Lumajang Jatim itu. Sang majikan sengaja tak memasang GPS dimobil Nasiroh dengan alasan agar Nasiroh benar2 paham jalan dan kalau nyasar bisa bertanya.

Awalnya malah mau dibelikan BMW 320 paling baru. Tapi karena interiornya terlalu ribet dan komputer semua, akhirnya dipilihkan Mazda6 matic yang mudah pengoperasiannya. Tinggal injak gas dan tekan rem saja”. Rencananya, mobil itu bakal dijual sesudah Nasiroh rampung kontrak. Kegagalan sewaktu bekerja di Singapura terbayar lunas di Pingtung.

Nasiroh juga berencana mendirikan rumah kost dan warung makan di daerah Sidoarjo. Awalnya ia bergurau ke majikannya karena ia tau harga tanah sangat mahal dan ia tak mungkin dapat uang dalam waktu sekejap. Sang majikan tanggap. Ia meminjamkan uang dan minta pada Nasiroh agar segera mengirim uang itu ke Indonesia untuk bayar tanah. Jumlahnya 120 juta rupiah.

Nasiroh benapas lega, setidaknya beban tanggungan di hari tua sudah ada jaminan. Cita-citanya menyekolahkan Zaenal Ma’ruf putra semata wayangnya pun terlaksana. Anaknya bakal menempuh sekolah angkatan udara di Solo Jawa Tengah.

BP3TKI Jakarta Latih 50 Calon Wirausaha Baru


Cisarua, BNP2TKI, Jumat (14/6) Keberhasilan meniti karir berwirausaha bisa diukur dari keseriusan seseorang dalam menerima ilmu dan ketrampilan yang diajarkan. Sebagai fasilitator program pelatihan kewirausahaan bagi TKI Purna sejak 4 tahun lalu, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI Jakarta (BP3TKI) Jakarta selalu mengharapkan keberhasilan para Calon Wirausaha muda dari Jakarta.
Harapan itu disampaikan Kepala BP3TKI Jakarta, Delta, SH, MM ketika membuka Bimbingan Teknis Pemberdayaan TKI Purna Penempatan Angkatan Kedua Tahun 2013 di Hotel Raya, Cisarua, Jumat Sore (14/6).
Turut hadir pada Bimtek yang diadakan selama 3 hari, 14-17 Juni 2013 ini Kepala Seksi Perlindungan BP3TKI Jakarta Yull Evira Yulinda, SH, M,Si, Pejabat Fungsional Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Industri Hadi Gunawan, M, Hum, dan Staf Ahli Usaha Kecil Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) Dinas Provinsi Jakarta Utara DR. Ir. Hendro Praponco.
Menurut Delta, Bimtek ini diikuti 50 peserta dengan latar belakang TKI Bermasalah, TKI yang baru mau mulai berusaha maupun TKI yang sudah berusaha dan TKI menginginkan adanya kemapanan dalam berusaha.
Kepada para peserta, Delta meminta agar mengikuti tahapan-tahapan kegiatan ini dengan serius. Pasalnya, pemerintah telah mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit dan pengeluaran itu tentu harus dipertanggungjawabkan.
“Kalian hadir dibiaya negara dan negara juga mengawasi keberhasilan program pelatihan ini,” gugahnya.
Delta menggugah, ke-50 orang peserta Bimtek in adalah merupakan orang-orang terpilih dari 400 peserta yang sebelumnya sudah terdaftar untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan ini. Sebagai orang terpilih para calon wirausaha diminta untuk dapat memanfaatkan ilmu dan pengetahuan yang didapat untuk kelangsungan usaha-usaha yang sedang dan akan dijalankan.
“Kehadiran anda dari rumah meninggalkan keluarga telah mendorong komitmen pemerintah untuk memfasilitasi terbentuknya para wirausaha muda Jakarta,” katanya.
Sekali lagi, kata Delta, motivasi dan keseriusan kalian selama 3 hari Bimtek ini akan menentukan keberhasilan kalian dalam mengembangkan usaha nantinya,” gugah Delta.
Bimtek BP3TKI Jakarta kali ini memang mencoba untuk terus-menerus melakukan penajaman dan fokus pada kualitas produk yang dihasilkan. Penajaman dimaksud ialah pada produk olahan kulit kerang yang banyak menjadi limbah di Tanjung Priok dan dikembangkan menjadi produk-produk kerajinan tangan (handycraft). Pemerintah terus berinovasi dan peka dalam melihat keinginan masyarakat khususnya kepada TKI Purna yang ada di wilayah Jakarta.
Delta menuturkan, pihaknya sudah empat tahun mengadakan Bimtek TKI Purna. Karena itu, peningkatan terus dilakukan baik dari sisi SDM, anggaran, kualitas peserta, nara sumber dan yang tidak kalah penting ialah bagaimana mengasah TKI Purna Jakarta agar mereka lebih berdaya, manusiawi, mandiri dan meningkatkan kesejahteraannya.
Pada kesempatan itu ,Delta juga memberi appresiasi kepada mantan TKI Dubai, Radiyatul Adawiyah asal Cilincing, Tanjung Priok dan Sopiah yang telah menjadi penggerak dari rintisan Koperasi Devisa Mandiri.
”Saya mengharapkan koperasi ini bisa menjadi penggerak kemajuan usaha-usaha TKI Purna di Jakarta,” harap Delta.

Layani TKI dengan Baik, Jangan Sepelekan Pendokumentasian


Semarang, BNP2TKI, Kamis (13/06) - Lakukan pelayanan terhadap calon TKI/TKI dan keluarga TKI dengan baik, tetapi jangan menyepelekan pendokumentasiannya. Karena sebaik-baik pelayanan dilengkapi dokumentasi sebagai buktinya.
Demikian pesan Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian BNP2TKI Herry Hidayat Hernowo, dan Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Tim Reformasi Birokrasi BNP2TKI Servulus Bobo Riti, seusai menyaksikan jalannya penilaian dari Tim Penilai Lomba Pelayanan Publik Tingkat Nasional di BP3TKI Semarang pada Kamis pagi (13/06).
Herry Hidayat mengatakan, ia menyampaikan apa adanya kepada Tim Penilai mengenai pelayanan TKI di BP3TKI Semarang. Tidak ada yang ditutupi atau dirahasiakan. Menurutnya, yang diketahui dari BP3TKI Semarang adalah jumlah pelayanan TKI terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Jawa Barat. Berikut unit kerja pelayanan terkait TKI lainnya yang ada di BP3TKI Semarang berada dalam satu lokasi, kecuali pelayanan penerbitan Paspor. "Sehingga pelayanan TKI yang ditangani BP3TKI Semarang sebagai unit kerja BNP2TKI di Provinsi Jawa Tengah patut untuk diikutkan dalam penilaian reformasi birokrasi yang dinilai oleh Tim Penilai Lomba Pelayanan Publik Tingkat Nasional dari KemenPAN-RB maupun dari BPKP," kata Herry. "Dari hasil penilaian Tim Penilai tingkat nasional itu nantinya dapat dijadikan langkah perbaikan kualitas pelayanan para sejawat di BP3TKI Semarang," tambahnya.
Herry Hidayat menambahkan, kehadiran Tim Penilai Lomba Pelayanan Publik Tingkat Nasional dari KemenPAN-RB dan BPKP di kantor BP3TKI Semarang ini sengaja tidak disambut dengan istimewa. Tidak ada spanduk ucapan selamat datang maupun prosesi seremoni. Berikut bangunan bagian depan kantor BP3TKI Semarang juga dibiarkan tidak tertata rapi, karena masih dalam renovasi. "Walhasil, kami menunjukkan apa adanya. Kami menunjukkan wajah aslinya pelayanan publik yang dilakukan sejawatnya di BP3TKI Semarang. Sehingga nantinya bisa melakukan koreksi diri untuk meningkatkan kualitas pelayanan menjadi lebih baik," ujar Herry.
Dikatakannya, bahwa penilaian pelayanan publik terstandar sebagaimana digariskan dalam Undang Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik serta Peraturan MenPAN-RB Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik, tidak dapat dibuat-buat atau direkayasa. Karena kalau pun dibuat-buat, misalnya, dipastikan akan ketahuan juga nantinya. Sebab penilaian yang dilakukan Tim Penilai tingkat nasional tidak sebatas pada kerja dan kinerja serta dokumen yang ada. Melainkan juga akan dilakukan croscek di lapangan kepada publik penerima pelayanan.
Servulus Bobo Riti sependapat dengan Herry Hidayat Hernowo. Ia katakan, pelayanan publik itu tak bisa dibuat-buat atau dipoles maupun direkayasa. Masyarakat saat ini kritis-kritis. "Guna meningkatkan pelayanan publik yang lebih berkualitas, sebaiknya kita libatkan masyarakat untuk menilainya. Toh yang kita kerjakan juga dirasakan masyarakat," kata Servulus.
Servulus mengatakan, BNP2TKI sebagai institusi Pemerintah yang relatif masih baru harus dipelihara kebaruannya. Artinya, jangan sampai membiarkan ada noda yang menempel yang nantinya dapat mengotori kerja dan kinerja pelayanan publik BNP2TKI di pusat maupun di BP3TKI dan unit kerja lainnya di daerah-daerah. "Sekali kita melakukan pelayanan yang baik, secara terus menerus kita tingkatkan pelayanan yang baik tersebut menjadi lebih baik dan lebih baik lagi," katanya.
Terkait catatan dari Tim Penilai Nasional kepada BP3TKI Semarang, Servulus mengatakan, bahwa sejak saat sekarang dan ke depan setiap pelayanan publik hendaknya disertakan pula adanya pendokumentasian. Sekalipun pelayanan publik tersebut terkesan kecil atau sepele.
Pelayanan publik dan pendokumentsian itu, lanjut Servulus, ibarat mata uang yang mempunyai dua sisi berbeda tetapi memiliki nilai sama. "Tujuan dari pendolumentasian dari setiap pelayanan yang kita lakukan adalah sebagai bukti sekaligus pengontrol terhadap pekerjaan yang kita lakukan," ujar Servulus mengingatkan.

Sunday, June 9, 2013

3.000 Mobil Murah Daihatsu Rp 75 Juta Siap Dijual


Liputan6.com, JAKARTA - Pemerintah telah memastikan terbitnya keputusan presiden terkait kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green car (LCGC). Payung hukum yang banyak dinanti kembali menjadi bahan bakar bagi pelaku otomotif nasional untuk memproduksi mobil dengan harga terjangkau.

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Candra dalam pesan singkatnya kepada Liputan6.com, baru-baru ini mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian payung hukum tersebut.

Daihatsu yang memproduksi mobil murah dengan merek Daihatsu Ayla ini juga masih harus menunggu keputusan lolos tidaknya perusahaan menjadi agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil LCGC.

"Ya, kalau lolos, bisa dijual," kata Amelia.

Meski masih menunggu keputusan pemerintah, Daihatsu sudah berancang-angcang untuk memproduksi mobil murah ke masyarakat. Perusahaan menargetkan mampu memproduksi mobil murah Ayla sebanyak 3.000 unit per bulan.

Sebagai informasi, Daihatsu Ayla nantinya akan muncul dalam tiga varian yaitu Daihatsu Ayla D, Daihatsu Ayla M (A/T dan M/T) dan satu lagi Daihatsu Ayla X (A/T dan M/T). Perbedaan dari setiap varian ini terletak pada pendingin udara dan sistem audio.

Daihatsu rencananya mematok harga jual produk mobil murahnya di kisaran Rp 75 juta hingga Rp 100 juta, tergantung dari variannya. 

Bisnis Rumput Gajah Mini Berlaba Rp 60 Juta Sasar Mantan TKI


SRIPOKU.COM, BOGOR - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun TKI purna kini berpeluang mengembangbiakan dana hasil bekerjanya selama bertahun-tahun di luar negeri. Salah satu peluang bisnis yang bisa dimasuki adalah sektor agribisnis khususnya budidaya tanaman rumput gajah mini.

Dari bisnis tersebut, Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkirakan keuntungan yang bisa diperoleh bisa mencapai Rp 60 juta per hektare (ha).

Rektor IPB, Herry Suhardiyanto, mengatakan institusinya memiliki sejumlah program bisnis yang bisa diambil para TKI maupun TKI purna. Program ini mencakup agribisnis mulai peternakan, palawija, hingga forest farming.

Saat ini, lanjut, Herry, program bisnis pertanian yang sudah berjalan dan menjadi proyek percontohan adalah penanaman rumput gajah seluas 2 hektar di Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

"Penyediaan potensi lahan sekitar 200 hektar di Kecamatan Cigudeg sebagai role model rumput gajah seluas 2 hektar selama enam bulan kita akan kembangkan. Kita sudah kerjasama dengan 4 desa," ujarnya, baru-baru ini.

Untuk memulai bisnis rumput gajah, calon pemodal hanya cukup menginvestasikan dana awal sebesar Rp 20 juta per hektar.

Pada tahap pertama, investor hanya membutuh waktu 4 sampai 6 bulan sebelum memperoleh hasil dari panen pertama. Selanjutnya, tanaman rumput gajah hanya membutuhkan waktu selama 1 sampai 2 bulan untuk membuahkan hasil.

"Setiap panen biasanya dapat 30 ton dengan keuntungan bersih Rp 60 juta per hektar. Per kilo biasanya dijual Rp 150 tapi pembeli datang sendiri. Panen berikutnya sama, bahkan tak perlu bibit bisa sampai 4 tahun," kata Herry.

Untuk pemasaran rumput gajah ini, lanjutnya, IPB telah menjamin untuk dipasok ke sejumlah peternakan di Pondok Rangon. Untuk di kawasan Jawa Barat sendiri, terdapat banyak potensi pasar yang cukup tinggi seperti di Sukabumi, Sentul dan Kabupaten Lebak Bogor.

Dengan adanya model kerjasama Badan Nasional penermpatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan IPB, diharapkan dapat menekan jumlah pekerja lokal yang berniat menjadi TKI. Pasalnya, model kerjasama ini lebih mengutamakan pada pemberdayaan kewirausahaan TKI.

"Kalau ada kesempatan di dalam negeri ngapain pergi ke luar negeri, artinya tetep kita utamakan dalam negeri. Dan kita butuh singkronisasi kebijakan nasional untuk ini semua," tandanya.

Sementara itu, Deputi Penempatan BNP2TKI Agusdin Subiantoro mengatakan pihaknya telah mengalokasikan dana Rp 200 juta untuk mengembangkan kemampuan kewirausahaan TKI di bidang agribisnis.

"Nantinya dana ini untuk program-program yang akan ditawarkan kepada TKI purna, sekarang sudah mulai berjalan," ujar

Agusdin menjelaskan, program baru BNP2TKI bekerjasama dengan IPB ini nantinya akan ditawarkan kepada TKI atau mantan TKI.

Dan tentunya program agribisnis ini akan disesuaikan dengan potensi kawasan dan minat TKI, khususnya di kawasan basis-basis pengiriman TKI. 

Saturday, June 8, 2013

Kisah Sukses Eksportir


Inspirasi - Anggapan akan pendidikan tinggi yang bisa menjamin langsung sukses setelah lulus kuliah tidaklah 100% benar. Hal ini salah satunya dibuktikan dengan suksesnya seorang eksportir mebel kelas atas yang bernama Manampin Girsang. Kreatif, ulet dan pantang menyerah adalah kunci sukses beliau. Baca profil selengkapnya kisah sukses pengusaha ekportir sukses mebel yang nggak lulus kuliah di bawah ini yang saya culik dari kompas.com.
Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel
Jika tidak bermodal nekat, Manampin Girsang tidak akan pergi ke Bali dan sukses menjadi eksportir mebel. Bermodal Rp 1,5 juta dan bahasa Inggris, ia dipercaya mengelola bisnis mebel antik dan akhirnya sukses membuka bisnis sendiri.
Sukses sering berawal dari sebuah pertemanan atau kemitraan. Itu juga yang dialami Manampin Girsang. Berawal dari bekerja sama dengan seorang pedagang barang antik, kini pria kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, ini berhasil menjadi eksportir mebel antik ke Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Dengan menggunakan merek Gabe International, produk mebel Manampin sudah dikenal sebagian pengusaha hotel atau vila di luar negeri. Sejak 20 tahun silam, ia memasok mebel antik ke beberapa hotel dan vila mewah di Cayman Island, Kepulauan Fiji, Bahama, dan Mauritius. Tiap bulan, ia mengekspor setidaknya enam hingga delapan kontainer. Nilai tiap kontainer ukuran 40 kaki antara US$ 20.000–US$ 25.000.
Saat ini, selain memiliki gerai mebel di Bali, Pipin, panggilan akrab Manampin, juga mempunyai galeri, workshop, dan pabrik di Jepara, Jawa Tengah. Maklum, beragam produk yang diekspornya, dari meja, bufet, kursi, hingga dipan, semuanya diukir, dipahat, dan dikerjakan para perajin di Jepara.
Semua produk itu rata-rata diekspor tanpa merek, terutama jika pemesannya adalah perusahaan. Berdasar informasi dalam situsnya, klien Pipin antara lain Soneva Hotel, Club Med, serta Great Bay Hotels and Casino. Selain korporat, pelanggan mebel Gabe adalah para pemilik rumah atau vila.
Pipin, kini berusia 42 tahun, tidak menyangka bakal menjadi eksportir mebel seperti sekarang. Sejak kecil, ayahnya yang bekerja di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengarahkannya untuk belajar teknik. Setelah masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di Brastagi, ia lantas kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia.
Tapi, sebenarnya, anak keempat dari tujuh bersaudara ini lebih menyukai bahasa ketimbang teknik. Saat masih sekolah di STM, ia senang memandu turis yang datang ke Brastagi. Nah, lantaran orientasinya berbeda, Pipin tidak lulus di UI. Alhasil, ia memilih merantau ke Bali pada tahun 1989. “Saya kabur karena drop out,” katanya.
Saat itu, dengan bekal duit Rp 1,5 juta dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, Pipin ingin mencari kerja di Bali. Sementara masih lontang-lantung, ia lebih banyak bergaul dengan para turis dan acap memandu mereka. Lewat seorang teman dari Kanada yang dikenal saat masih di UI, ia bertemu Giovanni, pria asal Italia yang berbisnis di Bali.
Nah, oleh Giovanni, Pipin ditawari menjual bikini aspal. Artinya, merek terkenal tapi palsu. Celakanya, usaha ini tidak berjalan lama. Dia ditangkap oleh petugas keamanan lantaran tidak menjadi anggota paguyuban penjual. “Karena saya bukan anggota mereka, saya dianggap ilegal,” katanya.
Akibatnya, Pipin masuk dalam daftar hitam untuk berjualan dan beroperasi di kawasan Kuta. Giovanni menawari Pipin bisnis lain, yakni berjualan barang antik. “Orang Italia memiliki selera yang bagus untuk seni,” ujarnya. Ia melihat kebutuhan mebel di Bali sangat besar. Giovanni langsung percaya, dan memberi modal kamera dan uang agar pria yang pernah ingin menjadi tentara angkatan laut ini bisa berburu mebel antik.
Berjualan mebel antik
Nah, naluri bisnis Pipin tidak meleset. Ia berburu mebel antik ke Madura dan Jepara. Produknya dijual di Indonesia maupun diekspor ke luar negeri. Sebelum dijual, kadang ia harus memoles, mengecat, dan memperbaiki sendiri mebel antik itu. Pipin mendapat bagian 10% dari hasil penjualan mebel itu.
Karena hasil kerjanya bagus, akhirnya, Pipin mendapat modal Rp 30 juta dari Giovanni untuk membangun workshop di Jepara. “Jepara memiliki banyak talenta dan mebelnya bagus,” katanya. Ia juga mendapat hak untuk mencari pembeli sendiri, di luar pelanggan Giovanni. Tahun 1991, ia resmi mendirikan Gabe International. “Gabe berasal dari nama malaikat, Gabriel,” katanya.
Untuk memperluas pemasarannya, Pipin membuat website. Ia rela merogoh kocek Rp 2,5 juta untuk menyewa jasa pembuat situs. Nah, dari situsnya itu, para pembeli (buyers) berdatangan, kebanyakan dari luar negeri. “Berbisnis lewat internet juga bisnis kepercayaan. Karena itu, saya menjaga kualitas mebel yang saya kirim,” kata Pipin yang sering terjun sendiri menjual produknya.
Mulai tahun 2003, Pipin mengembangkan bisnis sendiri, lepas dari Giovanni yang sedang terbelit masalah keuangan. Saat itu, ia tidak ada persoalan dengan modal lantaran punya simpanan dalam dolar AS yang setara dengan Rp 1,7 miliar. Berbekal itu, Pipin menggenjot penjualan lewat website.
Lantaran selalu menjaga kepercayaan pemesan, pelanggan mebel antik buatan Pipin semakin banyak. Hampir semuanya memesan lewat internet.
Saat ini permintaan ekspor mebel tetap bagus. Ia bahkan menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekspornya mencapai Rp 1 triliun per tahun. “Saya juga ingin punya merek sendiri,” katanya. Maklum, ia ingin mengharumkan nama produk asal Indonesia.

Thursday, June 6, 2013

Kisah Sukses Mantan TKI Asal Malang yang Mengadu Nasib di Korea


Jakarta - Banyak kisah menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diperantauan saat mengadu nasib di negeri orang. Meski ada beberapa yang tertimpa masalah, ada pula sejumlah buruh migran menjadi sukses sekembali mereka dari luar negeri.

Salah satu buruh migran yang sukses sekembali dari merantau di negeri orang adalah Mudiyono (36). Warga Dusun Barisan, Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang ini bekerja di Korea selama dua tahun. Kini hasil dia merantau bisa dimanfaatkan bapak satu anak ini untuk membuka usaha percetakkan serta grosir pulsa elektrik.

Usaha yang dirintis sejak Tahun 2000 itu kini berkembang dan menjadi penopang kebutuhan hidup dirinya bersama keluarga.

Ditemui di tempat usahanya, Jumat (24/6/2011) siang, alumni SMU Muhammadiyah Sumberpucung ini menceritakan, bahwa sulitnya lapangan pekerjaan membuat dirinya nekat memutuskan sebagai buruh migran melalui jasa pengerah tenaga kerja.

"Ada lowongan untuk ke Korea, di perusahaan kapal. Saya pun berangkat dengan biaya utang kepada kakak sebesar Rp 3,5 juta," tuturnya seraya mengaku berangkat Tahun 1997.

Datangnya krisis di tanah air memberikan berkah terhadap dirinya yang kala itu menerima gaji sebesar 3.360 won atau setara dengan Rp 20 juta. "Saat itu moneter dolar naik, jadi gaji saya jadi besar," ungkapnya.

Hingga akhirnya selama dua tahun dirinya bekerja di galangan kapal itu. Pascapulang dari tempat bekerja Mudiyono langsung menutup utang-utangnya serta merenovasi rumah milik kakak pertamanya yang kala itu memberikan utang untuk modal berangkat.

Sisa uang kemudian dia gunakan untuk membangun sebuah rumah bersama tempat usaha di depannya. Sesuai tujuan awal dirinya bekerja ke luar negeri untuk memperbaiki ekonomi.

"Setelah renovasi rumah kakak, saya bangun rumah ini dan membuat tempat usaha," beber suami Ririn Dwi ini.

Tuesday, June 4, 2013

Kiriman Uang TKI Pemalang Capai Rp30 Miliar


Pemalang, BNP2TKI, Sabtu (1/6) - Deputi Penempatan BNP2TKI Agusdin Subiantoro menyebukan remitansi (kiriman uang) TKI asal Kabupaten Pemalang dari luar negeri mencapai Rp30 miliar pertahun.
Dengan besarnya remitansi TKI ini bisa menggerakan roda ekonomi masyarakat di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
"Kami sangat bangga dengan Kabupaten Pemalang karena warganya sudah berada di seantero jagat ini, ada di Saudi Arabia, Hong Kong, Taiwan hingga Amerika sampai ke Afrika," ujar Agusdin saat memberikan sambutan pada sosialisasi melalui media tradisional BNP2TKI di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jumat malam (31/5).
Menurut Agusdin, TKI Kabupaten Pemalang juga sungguh luar biasa, pertahun bisa mengirimkan remitansi hingga Rp30 miliar.
Ini sangat jelas memberikan dampak positif bagi Kabupaten Pemalang, dengan adanya remitansi sebesar itu roda pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Pemalang bisa terus tumbuh dan berkembang pesat, katanya.
"Mereka berjuang untuk keluarga dan juga masyarakat Banyak kita lihat daerah-daerah terutama kantong-kantong TKI menjadi maju. Kegiatan usahanya berkembang dan roda ekonomi masyarakat juga tumbuh," ujarnya
Agusdin menyatakan perhatian kepada TKI terus diberikan, seperti saat ini BNP2TKI telah melakukan pembenahan proses penempatan dan perlindungan TKI melalui Sistim Komputerisasi Tenaga Kerja Luar Negeri (SISKOTKLN) kerjasama dengan 438 Dinas Kabupaten/Kota.
"Kita juga melakukan moratorium untuk penempatan TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke negara Timur Tengah (Timteng) yaitu Saudi Arabia, Quwait, Syiria dan Jordania. Memang moratorium ini sangat mengurangi penempatan TKI PLRT, tapi jelas mempunyai pengaruh besar terhadap perlindungan TKI," jelasnya.
Ia menambahkan Kabupaten Pemalang banyak menempatkan TKI formal sehingga masalah TKI di Kabupaten Pemalang relatif kecil. Untuk masyarakat Pemalang, kata Agusdin, jika ingin mengetahu informasi tentang bekerja ke Luar Negeri datanglah ke BP3TKI Semarang, atau ke BNP2TKI.
"Peluang kerja memang banyak di Luar Negeri ini harus di manfaatkan dan ini potensi besar untuk masyarakat Pemalang.
Pemerintah, katanya. tidak mendorong kepada masyarakatnya muntuk enjadi TKI, Pemerintah hanya bisa memfasilitasi dan mendukung bagi mereka yang ingin bekerja Luar Negeri," tutup Agusdin.

Ratusan TKI Asal Solo Siap Berwiraswasta


BNP2TKI, Solo (4/6) Demi mengubah nasib yang lebih baik, Sedikitnya 300 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) memastikan tak akan bertahan di Hong Kong setelah kontrak kerja mereka berakhir, tahun ini. Diperkirakan para TKI ini siap berubah status menjadi wirausaha pemula.
Dugaan itu diungkapkan Prakoso Budi Susetyo, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM. Menurut dia, kepastian sikap sekitar 300 orang TKI itu diterima setelah dia bertatap muka, akhir Mei lalu di Hong Kong.
"Sebelum mereka kembali ke Tanah Air, kami akan mengirim tim untuk memberikan pelatihan kewirausahaan di Hong Kong sebagai bekal menjalankan usaha di daerah mereka masing-masing," ujarnya kepada wartawan, Senin (3/6/2013).
Pelatihan dilaksanakan di Hong Kong dengan mempertimbangkan berbagai kendala jika hal itu dilaksanakan di Indonesia. Sebab, ketika sudah tiba di daerah masing-masing, akan sulit mengumpulkannya pada satu lokasi.
Melalui pelatihan itu, Kementerian Koperasi dan UKM bisa memastikan para TKI itu siap menjadi wirausaha pemula ketika kembali ke Tanah Air. Meski mereka dipastikan memiliki modal usaha selama bekerja di Hong Kong, Kementerian Koperasi dan UKM tetap siap membantu jika mereka memang memerlukan tambahan modal usaha.

BNP2TKI Sertakan Tim Tangani TKI Amnesti di Saudi


Jakarta, BNP2TKI (4/6) BNP2TKI mengikutsertakan dua pejabatnya bersama bersama tim Kementerian Luar Negeri, Kementeriaan Hukum dan HAM, serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, untuk berangkat ke Arab Saudi menangani WNI/TKI dalam program pengampunan (amnesti) yang diberlakukan pemerintah negara itu sejak 11 Mei-3 Juli 2013.
Pejabat BNP2TKI tersebut yaitu Direktur Penyiapan Pembekalan dan Pemberangkatan, Arifin Purba dan Kepala Sub Direktorat Penyiapan Pembekalan, Aminullah. Keduanya direncanakan menuju Jeddah, Arab Saudi pada Jumat (7/6).
Selain mengunjungi Jeddah, kata Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat di Jakarta, Selasa (4/6), tim pemerintah RI itu dijadwalkan bertandang ke Riyadh guna membantu proses pelayanan redokumentasi para WNI/TKI ilegal di kedua tempat, utamanya akibat tidak berdokumen lengkap ataupun menjadi overstayer.
"BNP2TKI sebagai tim pemerintah RI akan melakukan inventarisasi sekaligus mengklasifikasi data TKI kategori program amnesti, baik karena melanggar batas izin tinggal (overstay) maupun tidak berdokumen ketenagakerjaan," jelas Jumhur.
Selanjutnya, bagi TKI yang tetap ingin bekerja di Arab Saudi akan diperbaharui dokumennya oleh perwakilan RI melibatkan calon pengguna/agensi setempat. Para TKI itu akan diwawancara termasuk sejumlah calon pengguna yang sengaja diundang untuk keperluan perekrutan TKI sesuai aturan resmi.
Sementara itu, terhadap para TKI amesti yang menginginkan pulang ke tanah air, tim pemerintah RI melalui KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh akan memfasilitasi proses kepulangannya dengan mengeluarkan dokumen Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP).
"Tapi, saya berkeyakinan sebagian besar TKI itu berharap bisa terus bekerja di Arab Saudi, apalagi menghadapi Ramadhan ini, kan gaji/penghasilan para TKI akan lebih besar dari biasanya," ujar Jumhur.
Sejauh ini, tambahnya, gaji TKI sektor Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Arab Saudi memang tergolong mengalami peningkatan meski di satu sisi pemerintah Indonesia masih menetapkan kebijakan moratorium (penghentian sementara) untuk TKI PLRT ke Arab Saudi.
Ia menyebutkan, dalam program pemberian amnesti untuk WNI/TKI kali ini, KJRI Jeddah sudah mendaftar sedikitnya 40 ribu WNI/TKI sejak pemberlakukan amnesti hingga Kamis, 30 Mei 2013. Jumlah itu sedang didahulukan pelayanannya oleh staf KJRI Jeddah.Adapun pendaftaran susulan dibuka kembali pada Kamis (6/6) sampai batas waktu berakhirnya program amnesti.
Jumhur menambahkan, diperkirakan lebih 100 ribu TKI mengikuti program amnesti yang dilayani oleh KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh.
Ia juga mengaku, pemerintah Arab Saudi mengenakan hukuman penjara selama 2 tahun bagi TKI yang tidak memanfaatkan momentum pengampunan namun tetap berada di Arab Saudi. Sedangkan para pengguna/majikan yang memperkerjakan TKI itu pun diancam denda 100 ribu riyal.
Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan bahwa program amnesti berlaku untuk semua warga negara asing di sana, dengan perkiraan mencapai 1 juta orang dalam kategori sebagai overstayer dan tidak berdokumen. Hanya saja, amnesti tidak diberlakukan kepada warga negara asing terkena kasus kriminal serta untuk para penyelundup asal negara tetangga, yang terbiasa mendatangi Arab Saudi menggunakan jalur padang pasir.

Ahmad Faisol, Dulu TKI Kini Bos TKI


Jakarta, BNP2TKI, Selasa (31/5) -- Pengalaman bekerja di luar negeri ternyata bisa menjadi inspirasi untuk membuka Perusahaan Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS). Meski hanya bekerja untuk 1 kali kontrak selama 2 tahun di restoran Pizza Land di Damam, Arab Saudi (1990-2001), Ahmad Faisol (34) sepulangnya dari Arab Saudi justru aktif bekerja di PPTKIS.
Ditemui di Bursa Kerja Luar Negeri di Pasar Festival, di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu, (29/5) lalu, Faisol mengatakan bahwa menjadi TKI itu merupakan pekerjaan mulia dan bukanlah aib. Diakuinya masyarakat memang sudah terstigma dengan istilah menyamakan menjadi TKI identik dengan bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) yang sarat dengan permasalahan kekerasan, pelecehan seksual dan sebagainya. Padahal , profesi PLRT hanya 1 dari ratusan profesi yang ada di luar negeri.
"Bekerja di luar negeri merupakan solusi tercepat untuk mengumpulkan uang," ujarnya.
Faisol kini menjabat sebagai Direktur Utama di PT Timur Raya Jaya Lestari yang berlokasi di Kembali dari Arab Saudi tahun 2001. Dia diterima bekerja sebagai tenaga operasional dan merangkap pengajar bahasa Arab di PT Mekar Jaya Wanayasa Putra, Jakarta. Di perusahaan penempatan TKI ke Timur Tengah lulusan Pondok Pesantren Matlabul Ulum, Madura tahun 1999 ini digaji sebesar Rp750.000. Dia cukup lama bekerja yaitu 5 tahun (2001-2005).
Merasa pengalaman bekerjanya sudah cukup bagus, Faisol kemudian mencoba melamar bekerja di PT Timur Raya. Di sini karirnya naik menjadi manager operasional dengan gaji Rp15 juta per bulannya. Di Timur Raya Jaya Lestari ia bekerja selama 2 tahun (2007-2009).
"Saya ditempatkan untuk divisi Kuwait dan per tahunnya menempatkan 24.000 orang sebelum moratorium penempatan TKI sektor rumah tangga dilakukan pemerintah," katanya.
Setelah 2 tahun mengabdi di PT Timur Raya Jaya Lestari, Faisol kemudian pindah ke PT Almina Indah pada jabatan yang sama yaitu sebagai manager operasional. Pekerjaan ini ia tekuni hanya selama 1 tahun.
Menurut Faisol, bisnis penempatan tenaga kerja ke mancanegara merupakan bisnis yang paling cepat untuk merubah nasib seseorang dari miskin menjadi sejahtera. "Tak ada pekerjaan yang cepat menghasilkan uang selain bekerja ke luar negeri," ujarnya.
Tak heran, tahun 2010 ia menguatkan tekadnya untuk memulai berbisnis di bidang penempatan TKI. Pilihannya pun jatuh untuk membeli saham PT Timur Raya Jaya Lestari. "Saya membeli sepertiga saham PT Timur Raya Jaya Lestari," paparnya.
Faisol menjelaskan, meski ketika ia mengambilalih PT Timur saat itu bisnis pengiriman TKI belum masuk pada era penghentian penempatan TKI ke Arab Saudi, Kuwait, Yordania dan Suriah. Meski begitu, ia melihat ada kelesuan dalam bisnis penempatan. Tak ayal, sejumlah pembenahan pun ia lakukan.
"Saya rombak manajemen dan restrukturisasi. Jumlah staf yang ada pun ditambah guna meningkatkan kinerja," katanya.
Hasilnya, kata Faisol, di bulan ketiga ada peningkatan dalam angka penempatan yaitu 250 orang tiap bulannya berhasil ia berangkatkan ke sejumlah negera di Timur Tengah.
Tahun 2010 pemerintah melakukan moratorium penempatan TKI ke Kuwait. Penghentian itu dilakukan karena lemahnya jaminan perlindungan bagi TKI PLRT.
Faisol mengakui, memang ada penurunan hampir 50 persen penempatan TKI PLRT namun di sisi lain penempatan TKI semi skill dan skill atau formal justru mengalami peningkatan.
Peningkatan permintaan TKI formal itu diantaranya ia dapatkan dari forum Employment Business Meeting (EMB) BNP2TKI di Dubai yang pernah ia ikuti tahun 2012 lalu. Diakuinya dari forum itu ia dapat beberapa rekanan baru. Terlanjung sudah di Dubai, ia pun segera melakukan penjajakan job order yang ada di Dubai, Oman, Bahrain, dan Abu Dhabi. Masa penjajakan itu ia alami dengan menetap di Uni Emirat Arab (UEA) selama 20 hari.
"Alhamdulillah, saya dapat 10 job order baru untuk TKI formal dengan permintaan per job ordernya 10-100 orang," paparnya seraya menambahkan permintaan itu untuk bidang hospitality, teknik sipil, dan waiter.
Faiso bersyukur BNP2TKI giat melakukan promosi tenaga kerja melalui event EMB. Ke depan, ia berharap event it terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. PT Timur Raya selain menempatkan TKI ke Timur Tengah juga melakukan penempatan ke Malaysia. "Saya sudah membantu pemerintah mengurangi pengangguran di dalam negeri," ujar Faisol.

Sri Rahayu : TKI Korea Sukses dengan 5 Usaha


Jakarta, BNP2TKI (1/6) - Mantan TKI Korea ini memang luar biasa. Sri Rahayu mempunyai naluri bisnis lain dari yang lain. Sepulang dari Korea pada 2004, ia terus mengembangkan bisnisnya. Hingga kini Sri sudah memiliki 5 usah dengan omset perbulan mencapai Rp 20 juta.
Sri Rahayu pergi bekerja ke Korea pada 2002-2004, ia bekerja di pabrik Hand Phone (HP) Samsung dan Nokia sebagai operator produksi. Sri panggilan akrabnya tidak bekerja sendirian, ia ditemani suaminya tercinta Sunarjo saat bekerja di Korea.
“Suami saya bekerja di pabrik mobil, saya berdua bekerja sebagai TKI formal di dua perusahaan berbeda,” ujar Sri sambil mengenang masa lalunya itu.
Ketika bekerja di Korea, Sri mengaku tidak menyelesaikan kontraknya hingga selesai. Sebab ia hamil dan mengandung anak pertamanya. “Saya hamil dan harus berhenti bekerja. Setelah kontrak kerja suami selesai barulah kami berdua pulang bersama-sama ke kampung halaman,” jelas Sri sambil tersenyum kecil.
Sepulang dari Korea, Sri bersama suaminya kemudian memulai kehidupan barunya. Mereka berdua bersama-sama merintis sebuah usaha yaitu pengiisian ulang air minum. Usaha tersebut merupakan usaha pertama yang mereka dirikan sepulang bekerja dari Korea. Sri mengaku usaha tersebut dibangun dengan modal hasil bekerja di Korea sebagai TKI.
“Sebelumnya kami melihat dulu peluang usaha yang bagus dan belum ada. Setelah itu kemudian bersama suami saya mendirikian usaha tersebut. Setelah berjalan, nampaknya usaha tersebut lumayan bagus hingga akhirnya saya pun membuat cabang lain dari usaha isi ulang air minum,” papar ibu tiga anak ini.
Hingga saat ini Sri sudah memiliki dua usaha pengisian ulang air minum. Tidak berhenti disitu, Perempuan yang lahir di Majalengka 16 Oktober 1976 ini, kemudian mendirikan usaha lainnya. Berbekal keuntungan dari usaha pertama, Sri kemudian mendirikan usaha warung internet (Warnet) dengan nama Rifa Net. Saat ini warnetnnya memiliki 10 unit komputer.
“Usaha warnet ini saya dirikian bekerjasama dengan suami. Modal mendirikan usaha ini didapat dari ke untungan usaha pertama,” papar Sri yang juga memiliki usaha Counter HP ini.
Sri memang memiliki naluri bisnis luar biasa, meski sudah memiliki dua usaha ia terus berinovasi mendirikan usaha lainnya. Sebelum bekerja ke Korea, Sri pernah berjualan keliling baju. Dan sepulang dari Korea Sri kembali menekuni usaha lamanya itu.
“Sekarang berjualan baju, toko butik nya ada didepan rumah bersebelahan dengan warnet dan air isi ulang,” terangnya
Selain usaha tersebut, Sri ternyata masih mempunyai usaha lainnya yaitu penyewaan studio musik bernama Rifa Studio. Sama seperti usaha-usaha lainnya, studio musik ini ia dirikan berkat keuntungan usaha-usaha sebelumnya.
“Saya dibantu suami dan tiga orang karyawan mengelola dan mengurus usaha-usaha tersebut. Semua kami lakukan dengan bersama-sama,” ujarnya.
Dari semua usaha yang dijalankannya, dalam sebulan Sri mengaku berhasil dapat meraih omset dari 15-20 juta rupiah. Semua usaha yang dirintis Sri berlokasi di Desa Kertajaya, Kecamatan Kertajaya, Kabupaten Majalengka.

Saturday, June 1, 2013

Wahyudi Chandra, Potret TKI Sukses di Hong Kong


Hong Kong - Dia adalah salah seorang TKI yang sukses. Wahyudi Chandra namanya, beliau berhasil dan sukses mempunyai minimarket yang menjual berbagai macam produk buatan Indonesia di Hongkong.
Tak selamanya TKI bernasib kurang baik. Banyak pahlawan devisa itu memetik kesuksesan di negara lain dengan menjadi seorang pengusaha seperti dialami oleh Wahyudi Chandra Jakarta, BNP2TKI, Senin (17/9) .
Kesuksesannya bukan terjadi secara instan. Dulu, sekitar awal 1990-an, Chandra bekerja di Hong Kong hanya sebagai penjual makanan, koran, dan kaset dengan berkeliling di Victoria Park. Tapi itu dulu, sekarang Chandra telah sukses memiliki minimarket.
Lokasi minimarket Chandra di Causeway Bay yang strategis membuat banyak BMI yang mengunjunginya. Para pengunjung juga bukan hanya dari kalangan BMI saja, adapula dari warga Hong Kong yang sengaja membeli produk Indonesia di Chandra. Selain membeli berbagai keperluan, adapula yang mengirim uang ke kampung halaman melalui jasa pengiriman uang di Chandra, saya juga selalu mengirim uang lewat Chandra. Selain prosesnya cepat, nilai tukarnya juga lebih tinggi dibandingkan mengirim uang lewat Bank.
Jangan kaget pula tiap akhir pekan, pemilik toko pasangan Wahyudi Chandra dan Bekti Dwi Wahyuni itu kadang terlihat didepan toko Chandra, hanya sekedar untuk menyapa para BMI yang mampir di tokonya. Ia juga berniat memberi motivasi pada BMI agar para BMI mau serta mampu mengubah nasib dengan meningkatkan dan menambah keahlian seperti dirinya.
Pada tahun 1997, seperti dikutip dari Liputan6.com, Chandra mulai membuka minimarket pertamanya. Setelah 15 tahun, Chandra telah mempunyai 16 minimarket yang tersebar di wilayah Kowloon, Hong Kong Island, dan New Teritorry.
Bisnis Chandra kian hari kian berkembang dan merambah ke bidang lain, seperti biro perjalanan, money changer, Balai Latihan Kerja, hingga pengiriman uang dan paket barang. Dan tidak kurang dari 30 ribu transaksi per bulan dengan omzet triliunan rupiah per tahun. Wow !!!
Menurut Chandra, keberhasilan yang diraihnya bukanlah hal mudah. Menurut bapak dari tiga anak ini, perjuangan meraih kesuksesan sangat sulit, terutama pada saat perjuangan mendapatkan visa investor. Namun, Chandra bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia mengirimkan surat permohonan ke Gubernur Hong Kong lewat pengacara dan akhirnya berhasil mendapatkan izin usaha di Hong Kong.
Kini, Chandra telah membuka dua buah restoran masakan Indonesia dengan harga yang cukup terjangkau. Dari usaha bisnisnya ini, tak kurang dari 50 karyawan asal Indonesia dan Hong Kong menjadi karyawannya.